Bersalaman1

PERJANJIAN KERJASAMA PEMASARAN PROPERTY

-- Mar 20, 2016

Dalam praktek pemasaran property yang dilakukan melalui agen, dikenal 3 (tiga) macam perjanjian yaitu exclusive, open dan multi agent.

Exclusive

Ini merupakan satu bentuk perjanjian pemasaran yang sifatnya khusus kepada satu agen yang ditunjuk oleh vendor atau pemilik property. Apabila bersifat eksklusif, vendor tidak boleh memberikan wewenang penjualan kepada agen lainnya, bahkan anggota keluarga atau vendor itu sendiri. Kesepakatan antara vendor dan agen property ini memiliki batas waktu tertentu yang disepakati bersama.

Kelebihan dari perjanjian exclusive akan memotivasi agen property untuk menjual property dengan cepat dan pada harga tertinggi yang bisa dicapai. Para agen property biasanya akan memusatkan fokusnya pada property ini dan memasarkannya dengan berbagai cara marketing.

Kekurangannya bila vendor atau pemilik property berhasil menjual sendiri property tersebut, maka agen property akan tetap menerima komisi penjualan sebesar sesuai dengan perjanjian.

Open

Perjanjian pemasaran ini berkebalikan dengan exclusive. Perjanjian ini terbuka untuk semua agen property boleh memasarkannya. Komisi akan dibayarkan hanya kepada agen property yang berhasil menjualnya.

Kelebihannya adalah vendor atau pemilik property bisa memanfaatkan network dari berbagai agen property sehingga propertynya akan lebih dikenal luas.

Kelemahannya adalah, vendor akan menerima harga paling rendah dari propertynya. Masing-masing agen property akan berusaha secepat mungkin deal dengan calon buyer karena kawatir akan didahului oleh agen property lain.

Sole Agent

Perjanjian pemasaran dimana vendor menunjuk satu agen property saja, namun vendor juga melakukan usaha pemasaran juga.

Kelebihannya adalah vendor dapat melakukan pemasaran juga dengan cara apapun yang bisa dilakukan. Dari prakteknya, biasanya vendor akan menjual sendiri propertynya, karena semua inquiry masuk akan diolah oleh vendor.

Kelemahannya, biasanya memerlukan waktu lama untuk berhasil menjual. Vendor tidak menyadari bahwa agen property, dalam tipe perjanjian ini, hanya akan menumpang promosi, karena mereka tahu kans untuk mereka bisa menjual cukup kecil bila dibandingkan dengan pemilik. Disatu sisi vendor juga tidak menyadari bahwa negosiasi yang langsung dilakukan oleh vendor dan buyer, cenderung berlangsung cepat dan gagal.

Itulah 3 jenis perjanjian yang banyak dipakai saat ini.

Hal selanjutnya yang biasanya menjadi pertanyaan vendor kepada agen property adalah berapa besarnya komisi yang harus vendor bayarkan.

Broker tradisional memakai prosentase berjenjang sbb :

Sewa5%
Jual sd. Rp. 1 M3%
Jual Rp. 1 sd. Rp. 3 M2.5%
Jual Rp. 3 M keatas1%

Tidak demikian dengan agen property profesioanl, mereka akan meminta komisi untuk sewa sebesar 5% dan komisi untuk jual sebesar 3%, berapapun nilai jual propertynya. Bahkan untuk case tertentu, komisi yang diberikan akan lebih tinggi lagi dan vendor diminta berpartisipasi dalam pembiayaan promosi.

Mengapa demikian ?

Kita seringkali tidak menyadari bahwa semakin tinggi nilai propertynya, maka akan semakin tidak mudah untuk memasarkannya. Diperlukan strategi dan cara yang berbeda dengan cakupan dan penanganan yang lebih khusus, sehingga akan berakibat terhadap mahalnya biaya marketing.

Misal untuk property dalam bentuk rumah dengan harga Rp. 1 miliar, agen property biasanya akan memasarkan dengan memasang banner, arrow sign, internet, medsos dll. Tapi bila property itu memiliki nilai yang tinggi, puluhan bahkan ratusan miliar, pasti tidak bisa dipasarkan dengan cara tersebut. Agen property akan mencari cara lain yang lebih tepat dan pasti memerlukan biaya promosi yang lebih besar pula.